RSS

Kiat Jitu Instalasi Distro Linux

05 Jun

Kiat Jitu Instalasi Distro Linux

Pernyataan tersebut kerap muncul karena instalasi sering dipandang tidak lebih dari upaya memasukkan software ke dalam PC, tidak lebih, tidak kurang. Masalahnya, apa yang hendak kita masukkan ini tidak sekadar software biasa seperti halnya pengolah kata, tetapi suatu sistem operasi beserta aplikasi pendukungnya seperti desktop environment, boot loader, driver hardware, dan masih banyak lagi. Akibatnya, pilihan metode instalasi yang kurang tepat kerap menimbulkan efek mulai dari sekadar membuang waktu untuk melakukan instalasi ulang atau yang buruk misalnya Linux tidak bisa di-booting.Praktik Linux kali ini mencoba membahas beberapa poin tersebut dengan contoh nyata sebuah distribusi. Distro Fedora 8 dipilih sebagai ilustrasi, tetapi Anda diharapkan dapat mengadaptasikannya untuk distribusi Linux lain.Instalasi: Grafis vs Teks
Pertanyaan sebenarnya adalah berapa banyak memori (RAM) yang terpasang di PC Anda? Distribusi seperti Fedora menetapkan syarat minimal RAM sebesar 192 MB agar mode grafis bisa digunakan. Dengan demikian, ada baiknya memulai instalasi pada mode teks (text mode) jika RAM yang dimiliki tidak sebesar nilai minimum yang disyaratkan. Untungnya Fedora akan langsung beralih pada mode teks jika terdeteksi RAM lebih kecil dari 192 MB.Pemilihan mode teks juga dipilih karena alasan lainnya. Harus diakui bahwa mode teks relatif mempercepat proses instalasi karena PC tidak dibebani tampilan layar yang beraneka ragam. Tentu saja, sebagai konsekuensinya, Anda hanya bisa menggunakan keyboard sebagai alat navigasi menu, berbeda halnya dengan mode grafis yang bisa memakai mouse maupun keyboard.

Mode teks juga meringankan beban pro­sesor jika Anda melakukan instalasi ke dalam virtual machine, misalnya lewat bantuan Qemu atau VMWare. Emulasi tampilan grafis adalah satu dari sekian hal yang sulit dioptimilkan oleh emulator  sehingga menjadi beban ekstra di luar beban simulasi prosesor dan RAM.

Memilih Struktur Partisi
“Ah gampang, bikin satu partisi sebesar mungkin dan mount sebagai root!”. Anda memakai prinsip yang sama? Mungkin saatnya memikirkan ulang apakah ini alternatif terbaik buat Anda. Membuat partisi sebenarnya ditentukan oleh beberapa faktor:

1. Seberapa besar ruang kosong yang tersedia pada disk.
2. Bagaimana data dipilah-pilah.
3. Apakah Anda hendak membuat partisi swap? Apabila ya, seberapa besar dan seberapa banyak?

Hal yang penting Anda ingat, jangan memilih pembuatan partisi otomatis (automatic layout) jika partisi Anda berisi data penting. Partisi otomatis pun jangan dipilih jika Anda ingin menerapkan dual booting dengan sistem operasi lain, misalnya Windows. Kedua hal inilah yang sering berujung pada hilangnya data akibat terformat. Minimal, pilihlah opsi untuk mereview par­tisi yang diusulkan atau lakukan pembuatan partisi manual.
Modus instalasi: Fedora menyediakan opsi tampilan instalasi grafis dan teks. Pertimbangkan berdasarkan spesifikasi PC, misalnya kapasitas memori (RAM) atau kinerja PC Anda.
Sekarang, mulailah dengan faktor pertama. Lo­­gikanya, semakin besar ruang kosong, maka Anda pun akan semakin bebas membuat organisasi partisi sesuai yang diinginkan. Jadi misalnya, ada 10 GB, Anda bisa membuat 1GB sebagai swap, 6 GB sebagai partisi / (root), sisanya 3 GB sebagai partisi /home. Namun, jika ruang kosong ini relatif kecil, misalnya 2 GB, sepertinya Anda tidak punya banyak pilihan selain menjadikan hampir seluruhnya (anggap saja 1½ GB) sebagai partisi root dan menyisakan sedikit sebagai swap. Tentu saja jika Anda bisa menghemat jumlah paket yang di-install atau menggunakan distro ringan semacam Vector Linux, skema partisi mungkin saja lebih banyak.Faktor kedua adalah bagaimana data hendak dibagi. Menurut penulis, setidaknya Anda harus memisahkan antara partisi /home dan / (root). Mengapa demikian? Skema ini akan mempermudah Anda saat hendak melakukan upgrade atau instalasi ulang Linux. Dengan asumsi bahwa Anda konsisten menaruh data-data pribadi ke dalam /home, maka proses instalasinya cukup dengan memformat dan/atau meng-install ulang paket-paket program di root. Adapun /home tetap dibiarkan seperti apa adanya.Apabila diinginkan, Anda bisa membagi partisi lebih banyak lagi. Secara umum, direktori berikut bisa dipertimbangkan untuk menempati partisi tersendiri:● /home
● /tmp
● /var
● /boot
● /opt
● /usr

Karena /var biasanya menampung file-file log, pengguna mahir biasanya berpikir untuk menempatkannya pada partisi tersendiri agar memudahkan proses backup atau pengarsipan (biasanya lewat program rotasi log).  Partisi /boot menarik dipertimbangkan sebagai area tersendiri karena secara teknis ber­isi file kernel atau file-file sejenis yang dibutuhkan pada proses booting. Pada PC dengan sistem BIOS era tahun 90-an dan sebelumnya, partisi /boot biasanya diletakkan pada lokasi 8GB pertama dari hard disk untuk mengatasi masalah pengalamatan sector.

Struktur Partisi: Agar Anda tidak direpotkan dalam urusan manajemen data saat menggunakan Linux, tempatkan partisi /home pada tempat yang terpisah.
File temporary mayoritas disimpan di /tmp. Oleh karena itu, jangan heran jika Anda menemui berbagai nama file yang Anda sendiri tidak pernah merasa membuatnya. Beberapa program seperti KDE, GNOME, xterm, dan multimedia player semisal Amarok, menciptakan satu atau lebih file di sini. Sekalipun tidak terlalu memakan tempat, memisahkan /tmp memudahkan menerapkan aturan tertentu, seperti memberlakukan opsi noexec saat mounting atau pemberlakuan quota.
Tipe Sistem File
Khusus untuk partisi root (dan partisi /boot jika terpisah), pemilihan tipe sistem file termasuk sesuatu yang patut diperhatikan. Aturan terpenting adalah jangan menggunakan sistem file yang tidak didukung oleh bootloader. Berhubung bootloader yang umum digunakan dalam sistem Linux adalah LILO atau GRUB, otomatis ada catatan untuk tiap loader:
  • Untuk LILO, tipe sistem file tidak berpengaruh. LILO mencatat nomor sektor tempat kernel diletakkan berdasarkan konfigurasi yang ada pada dile /etc/lilo.conf. Selama posisi kernel yang hendak di-boot tidak berubah, kernel bisa di boot.
  • GRUB menggunakan modul pembaca sistem file untuk membaca dan memuat kernel ke RAM. Konsekuensinya, sistem file yang tidak didukung  oleh modul GRUB tidak bisa dibaca. Efek yang sama juga terjadi jika ada perubahan format sistem file, seperti yang baru-baru ini terjadi pada sistem file ext2 yang memperkenalkan struktur inode sebesar 256 byte, padahal GRUB hanya bisa mengenali ext2 yang menggunakan besaran inode 128 byte.
Boot loader GRUB 0.97 mendukung sis­­tem file ext2, ext3, FAT, JFS, MINIX, Reiserfs, XFS, UFS, ISO 9660 (sistem file CD/DVD). Adapun sistem file ext4 belum didukung. Jadi, selama Anda memilih sistem file di atas, booting Linux akan “aman-aman” saja.
Pilihan instalasi GRUB: Gunakan password pada bootloader untuk mencegah perubahan setting secara tidak sengaja.
Masalah kedua terkait dengan integritas data. Saat ini, sistem file di Linux menawarkan suatu kemampuan yang disebut journaling. Feature ini memungkinkan Linux memperkecil risiko kehilangan data akibat faktor, seperti listrik mendadak mati saat penulisan data. Fedora menawarkan ext3 dan XFS sebagai sistem file berkemampuan jurnal saat memasuki tahap pembuatan partisi.Menurut penulis, untuk hal ini jawabannya tergantung kebutuhan pengguna sendiri. Sistem file ext3 lebih direkomendasikan karena kompatibel dengan ext2. Selain itu, kinerja ext3 juga tergolong baik untuk berbagai kebutuhan. Misalnya, multimedia, file server, dan lain-lainnya. Jika ragu-ragu, pilih saja sistem file berjurnal agar sistem semakin aman.Konfigurasi Boot Loader
Salah satu pertanyaan yang kerap membi­ngungkan pengguna adalah pilihan untuk menentukan penempatan boot loader (misal GRUB) saat instalasi. Pilihannya ada dua, yaitu pada Master Boot Record (MBR) atau sector pertama partisi boot. Pada Fedora, loader di-install ke MBR secara default.Konsekuensinya, software loader lain akan tertimpa oleh GRUB. Pada skenario dual booting, hal seperti ini mungkin bukan yang Anda kehendaki karena sebenar­nya Anda punya alternatif lain. Kalau GRUB bisa mem-booting Windows, misalnya XP, sebaliknya NT Loader (nama formal dari loader milik Windows) sebenarnya bisa saja mem-booting Linux.

Apabila alternatif kedua yang diingin­kan, Anda harus memilih “configure advanced boot loader options” lalu pilih “First sector of boot partition”. Tentu saja, dengan memilih opsi ini, Linux nantinya tidak bisa langsung di-booting. Anda perlu melakukan setting tambahan di konfigurasi NT Loader yang sayangnya tidak dapat CHIP bahas di tulisan ini.

Tahapan yang mungkin menjadi pertanyaaan Anda berikutnya, perlukah memasang password untuk boot loader? Password ini sebenarnya untuk melindungi perubahan parameter saat booting. Untuk pengguna rumahan, fasilitas password ini mungkin tidak terlalu diperlukan. Akan tetapi, untuk suatu organisasi, misalnya untuk PC kantor, opsi ini mungkin dibutuhkan. Tandai opsi “Use a boot loader password” lalu klik “Change password”. Masukkan password yang diinginkan dua kali dan GRUB akan diset sesuai input tersebut.

Pengesetan Jaringan
Apabila PC yang di-install Linux terhubung ke sistem LAN (Local Area Network), cek apakah ada server atau perangkat tertentu (contohnya ADSL router) yang menyediakan fungsi DHCP (Dynamic Host Control Protocol). Apabila ada, sebaiknya set ethernet card agar menggunakan DHCP. Nantinya, DHCP yang akan mengalokasikan alamat IP untuk PC Anda berikut atribut lain seperti alamat gateway, nama host, serta server DNS.

Namun, bagaimana jika di dalam LAN tidak ada DHCP atau Anda ingin melakukan setting  manual? Berarti Anda harus menentukan alamat IP yang tepat. Cobalah berkonsultasi pada administrator jaringan untuk menanyakan hal-hal berikut:

Range IP address
Subnet mask

Misalnya, Anda mengetahui bahwa digunakan IP address berkepala 192.168.1 dengan subnet mask 255.255.255.0.  Berikutnya perlu diketahui alamat mana yang masih tersedia agar tidak terjadi bentrok alamat. Apabila alamat 192.168.1.1 sampai dengan 192.168.0.1.20 sudah terpakai, lo­gisnya gunakan angka 21 ke atas. Perhatikan bahwa angka tertinggi untuk tiap oktet ( IP terdiri atas emapat angka yang dipisahkan tanda titik, masing-masing disebut oktet) adalah 255. Itupun bukan berarti angka 255 bisa dipakai karena angka tersebut menandakan alamat broadcast dengan asumsi subnet mask 255.255.255.255. Jadi, maksimum yang bisa digunakan adalah 254.

Berkaitan de­ngan pengalamatan IP adalah pilihan antara pemakaian IP versi 4 (disingkat IPv4) atau IP versi 6 (IPv6). Sekali lagi, hal ini perlu ditanyakan ke administrator untuk menentukan versi mana yang didukung. Umumnya LAN di Indonesia masih menggunakan Ipv4, namun jika memungkinkan atau ISP menyediakan dukungan IPv6 maka sebaiknya digunakan versi 6.Konfigurasi Waktu
Sedikit catatan untuk Anda yang  memilih setting “System clock uses UTC”. Saat di-reboot ke Windows, jam sistem akan menjadi tidak tepat lagi. Ini disebabkan Linux melakukan modifikasi langsung ke chip clock pada motherboard dan Windows membaca nilai tersebut, tetapi mengonversikannya ke time zone lokal. Solusinya adalah tidak memakai UTC jika Anda melakukan dual booting.
Menyesuaikan time zone: Agar konfigurasi waktu sistem Linux akurat, pilih zona waktu yang sesuai dengan gambar.
Pada beberapa distro selain Fedora, tersedia opsi untuk memakai referensi waktu berbasis NTP (Network Time Protocol). Syaratnya, tentukan server mana yang akan dijadikan referensi. Server ini bisa saja berlokasi di LAN atau di Internet. Keuntungan menggunakan NTP adalah jaminan akurasi wak­tu. Berbeda halnya jika tidak memakai NTP yang berisiko terjadi kesalahan semisal akibat kesalahan fungsi motherboard.Pemilihan Paket
Pertanyaan ini mungkin dihadapi oleh Anda. Manakah yang lebih baik, meng-install semua sekaligus atau meng-install minimal baru ditambah kemudian? Tidak mudah menjawab pertanyaan yang satu ini. Beberapa orang memilih prinsip install sebanyak mungkin selama masih ada ruang kosong di disk, sementara lainnya memilih minimal karena instalasi Linuxnya hanya digunakan untuk keperluan spesifik semisal dijadikan web server.Untuk pengguna desktop disarankan memilih setidaknya group paket berikut:Office productivity
Sound and Video
Editors
Graphical Internet
Salah satu dari KDE atau GNOME
desktop environment
Printing Support
Dial Up Networking support
(jika Anda pemakai dial up)

Untuk melakukan pemilihan spesifik, pilih menu “Customize Now” saat layar pemilihan instalasi paket dirampilkan. Item-item di atas bisa Anda temui dengan mengamati satu persatu grup paket yang ditawarkan pada layar berikutnya setelah Anda menekan tombol Next.

Instalasi vs Upgrade
Upgrade memiliki sisi positif, yaitu Anda tidak perlu melakukan backup data karena proses upgrade hanya memperbaharui versi paket-paket resmi Fedora yang telah terpasang. Opsi ini pun memiliki kekurangan. Proses upgrade tidak pernah dijamin 100% tanpa cacat sehingga pada kemungkinan terburuk, sistem Linux Anda bisa saja menjadi tidak bisa di-boot.
Memilih aplikasi: Pilih paket program seperlunya. Utamakan paket office dan Internet untuk penggunaan di rumah.
Install ulang memiliki keuntungan karena Anda memulai dari kondisi nol, atau dengan kata lain dari keadaan partisi kosong. Apabila Anda menerapkan strategi partisi /home terpisah, proses instalasi ulang menjadi lebih mudah karena artinya Anda tinggal memerintahkan agar partisi tersebut tidak diformat ulang. Partisi /home cukup di-mount ulang sebagai /home. Kekurangannya jelas proses menjadi sedikit lebih lama karena artinya Anda harus menjawab lagi pertanyaan-pertanyaan seperti settingan network, zona waktu, konfigurasi loader, seleksi paket dan seterusnya.Penulis sendiri cenderung memilih ins­talasi ulang karena kecenderungan akhir-akhir ini sering terjadi perubahan cukup signifikan antarversi distro yang ber­dekatan, semisal antara Fedora 7 dan Fedora 8. Fedora 7 menggunakan sistem audio berbasis ALSA, sementara Fedora 8 menggunakan kombinasi ALSA dan Pulse Audio. Walaupun semestinya tidak akan ada masalah serius, biasanya dalam kenyataannya sering kali bisa menimbulkan masalah misalnya speaker tidak lagi berbunyi. Jadi, ketimbang membiarkan sistem instalasi tidak sempurna dalam memindahkan setting atau meng-upgrade  paket, akan lebih mudah jika Anda melakukan instalasi dari nol sesuai dengan distro yang hendak digunakan.
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 5 Juni 2011 in Installasi Linux, Tips and Trick

 

2 responses to “Kiat Jitu Instalasi Distro Linux

  1. BakulatZ

    5 Juni 2011 at 7:11 PM

    maaf Sob, sekedar koreksi
    kayanya HTML translate anda perlu di benerin tuh,
    tadi saya klik ga bisa di translate,
    salam kenal dari http://bakulatz.wordpress.com/

     
    • icalredhat

      6 Juni 2011 at 4:00 AM

      $ makasih gan tas sarannya,….heheheheh

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: